Menuju Ekosistem Pertahanan yang Berkelanjutan
Transformasi industri pertahanan menuju era inovasi berbasis pengetahuan bukanlah sekadar perubahan teknologi atau investasi modal. Ia merupakan perubahan paradigma, perubahan cara berpikir, dan perubahan budaya organisasi. Dalam industri yang selama puluhan tahun dibangun di atas logika birokrasi, produksi massal, dan struktur hirarkis, perubahan menuju knowledge-based defense ecosystem membutuhkan pondasi baru: budaya pengetahuan (knowledge culture).
Budaya pengetahuan adalah kemampuan kolektif sebuah organisasi—dan bangsa—untuk menghargai ilmu, mendorong rasa ingin tahu, menginternalisasi pembelajaran, berbagi pemahaman, dan menciptakan inovasi dari pengalaman. Tanpa budaya ini, transformasi pertahanan tidak akan bertahan lama dan hanya menjadi proyek sesaat.
Sebaliknya, jika budaya pengetahuan mengakar, maka pertahanan dapat menjadi sistem yang hidup, adaptif, dan berkelanjutan. Inilah logika utama dari EB2P Defense—sebuah model ekosistem yang melihat pertahanan bukan sebagai pabrik senjata, tetapi sebagai sistem pembelajaran nasional.
Dalam kerangka EB2P Defense, keberlanjutan ekosistem pertahanan dibangun melalui tiga pilar utama:
-
Knowledge Integration
-
Innovation Circulation
-
Business Sustainability
Ketiga pilar ini bekerja secara sinergis untuk menciptakan ekosistem pertahanan yang tidak hanya kuat hari ini, tetapi juga mampu tumbuh dan beradaptasi dalam menghadapi ancaman masa depan.
1. Knowledge Integration: Menyatukan Sumber Pengetahuan Nasional
Salah satu tantangan terbesar industri pertahanan adalah terpisahnya sumber pengetahuan antar lembaga. Universitas menyimpan riset dasar yang sangat kaya, lembaga penelitian memiliki laboratorium dan kemampuan eksperimental, sementara BUMN memiliki fasilitas produksi dan pengalaman operasional. Sayangnya, selama ini ketiganya berjalan sendiri-sendiri.
Knowledge Integration adalah pilar yang bertujuan untuk:
-
menghubungkan riset universitas dengan kebutuhan industri,
-
memastikan hasil eksperimen tidak berhenti sebagai dokumen,
-
memperkaya industri dengan insight akademik,
-
dan memperkuat riset dengan pengalaman lapangan dari industri dan TNI.
Integrasi ini dapat diwujudkan melalui:
-
Defense R&D Consortium,
-
Defense Knowledge Center,
-
sistem co-research yang melibatkan dosen, peneliti, dan engineer,
-
platform digital berbasis pengetahuan yang menyimpan data, blueprint, dan prototipe,
-
serta kebijakan pertahanan yang memfasilitasi aliran pengetahuan antar lembaga.
Dengan integrasi pengetahuan, industri pertahanan nasional tidak lagi bergantung pada satu lembaga, tetapi didukung oleh ekosistem pengetahuan kolektif yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan.
2. Innovation Circulation: Pertukaran Ide untuk Menciptakan Teknologi Baru
Inovasi tidak lahir dari ruang yang tertutup. Inovasi lahir dari pertemuan ide, keberanian bereksperimen, dan kolaborasi lintas disiplin. Inilah esensi Innovation Circulation.
Dalam konteks pertahanan, sirkulasi inovasi berarti:
-
pertukaran ide antara periset kampus, insinyur BUMN, startup, dan komunitas teknologi;
-
pengujian cepat (rapid prototyping) untuk mempercepat siklus riset;
-
dokumentasi pengetahuan dari setiap kegagalan (lessons learned);
-
interoperability antarteknologi untuk membangun sistem modular;
-
kompetisi ide, hackathon pertahanan, dan challenge-based research.
Sirkulasi inovasi adalah kunci agar industri pertahanan mampu merespons ancaman baru seperti:
-
serangan siber berskala besar,
-
peperangan berbasis AI,
-
drone swarm dan sistem autonomous,
-
sensor cerdas berbasis IoT,
-
perang informasi dan manipulasi data.
Tanpa sirkulasi inovasi, industri pertahanan akan tertinggal dibanding perkembangan teknologi global. Dengan sirkulasi inovasi, industri dapat berkembang secara organik dan berkelanjutan—selalu menghasilkan ide baru, solusi baru, dan teknologi baru.
3. Business Sustainability: Menghubungkan Riset dengan Pasar dan Dual-Use Innovation
Keberlanjutan ekosistem pertahanan tidak hanya berasal dari riset dan inovasi, tetapi juga dari kemampuan untuk menghubungkan riset dengan pasar. Dalam konteks EB2P Defense, pasar yang dimaksud bukan semata pasar militer, tetapi juga:
-
pasar industri energi,
-
industri transportasi,
-
industri teknologi digital,
-
industri kesehatan (medical defense),
-
industri agrikultur cerdas,
-
dan pasar internasional.
Inilah konsep dual-use innovation—ketika teknologi pertahanan dapat diadaptasi untuk kebutuhan sipil, dan sebaliknya. Contohnya:
-
drone pertahanan yang digunakan untuk survei agrikultur,
-
sistem navigasi roket yang menjadi teknologi satelit sipil,
-
bahan komposit militer yang digunakan pada kendaraan umum,
-
teknologi cybersecurity untuk perusahaan publik dan swasta.
Dengan dual-use innovation:
-
riset menjadi lebih produktif,
-
biaya produksi dapat ditekan,
-
pasar semakin luas,
-
dan teknologi nasional semakin kompetitif.
Business Sustainability juga berarti memastikan bahwa setiap inovasi dapat menghasilkan:
-
nilai ekonomi,
-
peluang kerja,
-
penguatan industri lokal,
-
pendapatan ekspor,
-
dan reputasi teknologi Indonesia di mata dunia.
Pertahanan yang berkelanjutan adalah pertahanan yang dapat membiayai dirinya sendiri melalui ekosistem industri yang sehat.
Menuju Sistem Pertahanan sebagai Sistem Pembelajaran Nasional
Dengan Knowledge Integration, Innovation Circulation, dan Business Sustainability, Indonesia dapat membangun ekosistem pertahanan yang:
-
adaptif,
-
cepat belajar,
-
responsif,
-
inovatif,
-
terhubung,
-
dan berorientasi masa depan.
Ekosistem semacam ini tidak lagi bergantung pada proses manufaktur konvensional, tetapi pada sistem pembelajaran nasional yang dinamis. Setiap riset menjadi input inovasi, setiap produksi menjadi sumber pengetahuan baru, setiap operasi militer melahirkan insight strategis, dan setiap aktor dalam ekosistem berkontribusi pada kekuatan pertahanan nasional.
Dengan EB2P Defense, Indonesia bergerak menuju paradigma baru:
Pertahanan sebagai ekosistem pengetahuan.
Pertahanan sebagai inovasi berkelanjutan.
Pertahanan sebagai masa depan yang diciptakan oleh seluruh bangsa.
